Mengenal Macam-macam Air dan Pembagiannya

Thoharoh atau bersuci menjadi bab penting yang selalu muncul dalam kitab fiqih. Islam termasuk agama yang sangat menganjurkan pemeluknya untuk membiasakan diri dalam keadaan bersih. Baik beribadah ataupun melaksanakan kegiatan lain. Air menjadi bagian yang tidak terlepas dari aktivitas bersuci. Meskipun umat islam diperbolehkan menggunakan batu dan tisu. Air tetap jadi prioritas dalam setiap aktivias thoharoh.

Bersuci sendiri diartikan oleh ahli fiqih adalah membersihkan diri dari hadas dan najis. Sebab, dua perkara tersebut yang sering mengalangi sahnya ibadah. Menurut para ulama ada 7 jenis air yang bisa digunakan untuk bersuci. Yaitu, air hujan, laut, sungai, sumur, mata air, es salju, hingga embun. Dalil setiap air terdapat pada Al-quran dan hadist. Sehingga pendapat tersebut sudah dijelas kebenarannya.

Namun, dari sekian banyak jenis air. Masyarakat lebih condong menggunakan air sumur karena pengaplikasiannya yang mudah. Namun, saat Anda ingin menggunakan air hujan sebagai media untuk berwudhu tidak ada salahnya. Selama aliran air hujan dipastikan bersih dari hal-hal yang bisa mengubah bentuk dan warna.

Selain bersuci, air juga erat kaitannya dengan kebutuhan manusia. Dimana seperti yang telah diungkap oleh berbagai penelitian bahwa tubuh manusia terdominasi air. Hal tersebut yang kemudian banyak dari profesional yang menganjurkan mengonsumsi air secara maksimal.

4 Macam Air yang Perlu Diketahui

Setelah mengetahui 7 jenis air. Sekarang pembahasan masuk pada pembagian air. Kitab fiqih menggolongkannya menjadi 4 macam. Bagi Anda yang ingin memahami lebih detail bisa mengakses hasana.id. Nah, berikut penjelasan mengenai 4 macam air:

  1. Air mutlak

Air mutlak adalah air suci menyucikan. 7 jenis air diatas masuk pada kategori tersebut. Selama wujud, warna, dan bau tidak berubah Anda bisa menggunakannya sebagai media menghilagkan hadas dan najis.

  1. Air musta’mal

Pada bab ini ada beberapa perbedaan. Beberapa ulama mengatakan bahwa air musta’mal suci namun tidak menyucikan. Namun, pendapat lain menjelaskan selama air tidak berubah bau, warna, dan wujudnya tetap suci menyucikan. Pada intinya, air nusta’mal adalah air yang telah digunakan bersuci. Sehingga Anda bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan.

  1. Air musyammas

Jenis air yang terkena panas matahari. Airnya masih suci menyucikan. Namun, hukum bersuci menggunakannya makruh.

  1. Air najis

Sedangkan untuk air ini telah berubah zatnya. Mulai dari warna, bau, dan rasa. Disebabkan oleh bercampur dengan barang najis. Sehingga air ini tidak suci ataupun menyucikan.

Ukuran Air Dua Kulah

Air suci menyucikan biasanya mempunyai ukuran dua kulah. Ketika kurang dari dua kulah berarti air tersebut dinyatakan sedikit. Sehingga ketika Anda ingin menggunakannya untuk wudhu harus diambil sedikit demi sedikit. Sedangkan untuk ukuran dua kulah diperkiran sekitar 200 liter.